Wednesday, February 27, 2013

Hidup Hanya Satu Kali



Hidup Hanya Satu Kali
Coba bayangkan, berapa banyak anak anak terlantar yang akan bisa bersekolah;
berapa banyak orang miskin disekitar kita yang tertolong hidupnya;
berapa banyak orang yang putus asa yang bisa mempunyai pengharapan lagi......
karena ada  "Pohon Besar"  seperti  Anda yang menyisihkan sebagian kecil dari kekayaannya untuk mereka, saudara saudari kita sebangsa setanah air, sesama manusia!


Percayalah, bahwa apa yang Anda tabur, akan Anda tuai kembali, berlipat ganda.
Karena orang miskin tidak bisa membalas kebaikan Anda,  maka TUHAN lah yang akan membalasnya.
Dengan demikian, Anda dan kekayaan Anda telah menjalani fitrahnya, kodratnya, "MENJADI POHON BESAR", sehingga bagi orang seperti itu berlaku, "Dibumi hidup bahagia kaya raya, dan ketika mati masuk Sorga, mendapat Mahkota Kemuliaan!", suatu perjalanan hidup yang membanggakan, dan tidak sia-sia!

TUHAN tidak percuma menciptakan Anda dan saya, bukan karya kodian, melainkan "Masterpiece"!
Seperti yang diajarkan oleh Aa Gym, mari kita mulai itikad baik dengan 3M: Mulai dari diri sendiri; mulai dari yang kecil kecil; dan mulai sekarang juga!

Saya hanya mengingatkan bahwa "Tangan diatas lebih enak dari tangan dibawah",
dan satu lagi:
Jangan menunda perbuatan baik, karena "esok mungkin terlambat!"
Saya berdoa, agar kiranya TUHAN menumbuhkan banyak "POHON BESAR" yang bersedia menjalani kodratnya, menjadi kebergunaan yang optimal.
HIDUP HANYA SATU KALI.
NAMUN JIKA DIJALANI DENGAN BENAR,
MAKA SATU KALI ITUPUN LEBIH DARI CUKUP
                                                                       
                                                    Kuala Tungkal, 28 Februari 2013

Tuesday, February 12, 2013

PUISI


KISAH DARI NEGERI YANG MENGGIGIL
(buat anak-anak yg terlupakan di Padanglawas)

Kesedihan adalah kumpulan layang-layang hitam
yang membayangi dan terus mengikuti
hinggap pada kata-kata
yang tak pernah sanggup kususun
juga untukmu, adik kecil


Belum lama kudengar berita pilu
yang membuat tangis seakan tak berarti
saat para bayi yang tinggal belulang
mati dikerumuni lalat karena busung lapar
aku bertanya pada diri sendiri
benarkah ini terjadi di negeri kami?


Lalu kulihat di televisi
ada anak-anak kecil
memilih bunuh diri
hanya karena tak bisa bayar uang sekolah
karena tak mampu membeli mie instan
juga tak ada biaya rekreasi


Beliung pun menyerbu
dari berbagai penjuru
menancapi hati
mengiris sendi-sendi diri
sampai aku hampir tak sanggup berdiri
sekali lagi aku bertanya pada diri sendiri
benarkah ini terjadi di negeri kami?


Lalu kudengar episodemu adik kecil
Pada suatu hari yang terik
nadimu semakin lemah
tapi tak ada uang untuk ke dokter
atau membeli obat
sebab ayahmu hanya pemulung
kaupun tak tertolong


Ayah dan abangmu berjalan berkilo-kilo
tak makan, tak minum
sebab uang tinggal enam ribu saja
mereka tuju stasiun
sambil mendorong gerobak kumuh
kau tergolek di dalamnya
berselimut sarung rombengan
pias terpejam kaku


Airmata bercucuran
peluh terus bersimbahan
Ayah dan abangmu
akan mencari kuburan
tapi tak akan ada kafan untukmu
tak akan ada kendaraan pengangkut jenazah
hanya matahari mengikuti
memanggang luka yang semakin perih
tanpa seorang pun peduli
aku pun bertanya sambil berteriak pada diri
benarkah ini terjadi di negeri kami?

Sunday, February 10, 2013

Air Mata dan Nasi Aking

Miris rasanya melihat masih saja ada orang-orang pinggiran yang untuk hidup pun harus berjualan daun singkong. Ya, itulah yang terjadi di sekitar kita. Bukannya tak terlihat, namun tak pernah diri kita berusaha membuka mata untuk melihat kenyataan ini. Saya tahu dan sangat yakin bahwwa tuhan Tuhan itu maha adil. Dia telah mengatur semua ini. Menakdirkan banyak dari saudara kita yang hidup sengsara. Penuh tangis. Sungguh suatu hal yang lucu. 

Negara yang katanya kemajuan ekonominya menjadi salah satu yang paling berkembang pesat, masih saja belum bisa mengatasi kemiskinan tingkat akut ini. Sudah saatnyalah kita semua peduli. 

Kalau pemerintah belum mampu (atau belum mau), kitalah yang harus memulainya. Kasihan mereka. Apakah kita tidak punya hati sampai-sampai membiarkan mereka mati dan membusuk dalm kemiskinan. Indonesia harus berubah. 

Jangan lagi ada rakyat kita yang makan nasi aking. Semoga tangan-tangan Tuhan segera terulur memberikan kasih-Nya. Agar tak ada lagi saudara kita yang mati karena kemiskinan dinegeri kita yang semakin merajalela. Amin ya Robbal A’lamin