Thursday, January 31, 2013

Tatap Matanya ....


Di sebuah pelataran rumah beralaskan tikar dari anyaman bambu lusuh ipung merebahkan badannya dengan kepalanya yang disandarkan di pangkuan ibunya. ibunya selalu menanyakan impian ipung, tetapi ia hanya bilang ia ingin menjadi orang yang sukses. kemiskinan memang sedang melanda mereka sepeninggal ayahnya yang juga hanya orang yang biasa-biasa saja. ibunya hanya bisa mengeluskan dada serambi membelai rambut Ipung yang nampak kusam seperti sapu ijuk yang semestinya diganti dengan yang baru. ibu yang sedang sakit keras itu menambahkan dalam hati, bahwa tanpa menempuh pendidikan pun dia percaya bahwa Ipung bisa melakukannya.kemanapun Ipung pergi, selalu mendapatkan perlakuan yang sama. ketidakadilan, karena kemiskinan yang ia sandang. pernah pada suatu hari, dia mengintip sebuah aktivitas belajar-mengajar di balik pintu hanya untuk menyimak apa yang diberikan oleh sang pengajar. tak lama, seorang siswa mengetahui hal tersebut, sehingga sang guru menyuruh masuk Ipung. bukan untuk menawarkan menjadi anak didiknya, malahan dia mendapatkan cemoohan dari pengajar dan peserta didik yang lainnya.
 
"Siapa kamu! miskin.. jangan berharap ya kamu jadi siswa disini! lihat dirimu baik-baik! berdirilah di depan cermin kamu yang busuk kalo kamu memang busuk! tak pantas kau di sini!"
Ipung hanya bisa meratap tangis setelah mendapatkan benturan keras di pipinya. dia menangis sepanjang jalan menuju rumahnya. sepulangnya, dia kehausan dan dia menemui seorang penjual bakso untuk meminta segels air putih. lagi-lagi dia mendapatkan perlakuan yang sama dan kasar. segelas air memang dia terima, tetapi hanya setetes dari buraian pucuk rambutnya yang disiram oleh tukang bakso itu. makian tak mungkin tidak ia terima.
" Siapa kamu?? gara-gara kamu, semua pelanggan saya pada pergi!!, cuihhh", tandasnya dengan melampat sebulir lidah di pelataran wajah Ipung nan lusuh. Ipung memang harus meratapi nasibnya dan mendapatkan perlakuan kasar setiap harinya. dunia ini seakan-akan neraka baginya. kemana pun dia pergi, hanya makian dan cercaan yang dia terima, hanya karena ibunya-lah dia dapat bertahan dari semuanya.
Sedikit-demi sedikit langkah kakinya mulai mendekati bibir pelataran rumah gubug yang di dalamnya hanya ada seorang wanita tua yang melahirkannya 17 tahun silam. dia terperangah dan terkejut ketika mendapati tubuh ibunya tergeletak dilantai. tak lama, ibunya meninggal di pangkuannya tanpa pesan apapun.
hari demi hari berlalu, semua kondisi berubah total. siswa pelajar yang biasa memaki Ipung beralih mencarinya, sampai pada penjual bakso yang sudah lama tak melihatnya. hingga suatu hari mereka pergi bersama ke rumah Ipung. mereka sontak terkejut, tak bisa memaki Ipung lagi, karena dia  sudah terbang ke langit beserta harapan - harapan kosong yang membuainya selama ada dilangit....

No comments:

Post a Comment