Di sebuah pelataran rumah
beralaskan tikar dari anyaman bambu lusuh ipung merebahkan badannya
dengan kepalanya yang disandarkan di pangkuan ibunya. ibunya selalu
menanyakan impian ipung, tetapi ia hanya bilang ia ingin menjadi orang
yang sukses. kemiskinan memang sedang melanda mereka sepeninggal ayahnya
yang juga hanya orang yang biasa-biasa saja. ibunya hanya bisa
mengeluskan dada serambi membelai rambut Ipung yang nampak kusam seperti
sapu ijuk yang semestinya diganti dengan yang baru. ibu yang sedang
sakit keras itu menambahkan dalam hati, bahwa tanpa menempuh pendidikan
pun dia percaya bahwa Ipung bisa melakukannya.kemanapun Ipung pergi,
selalu mendapatkan perlakuan yang sama. ketidakadilan, karena kemiskinan
yang ia sandang. pernah pada suatu hari, dia mengintip sebuah aktivitas
belajar-mengajar di balik pintu hanya untuk menyimak apa yang diberikan
oleh sang pengajar. tak lama, seorang siswa mengetahui hal tersebut,
sehingga sang guru menyuruh masuk Ipung. bukan untuk menawarkan menjadi
anak didiknya, malahan dia mendapatkan cemoohan dari pengajar dan peserta
didik yang lainnya.
"Siapa kamu! miskin.. jangan berharap ya kamu
jadi siswa disini! lihat dirimu baik-baik! berdirilah di depan cermin
kamu yang busuk kalo kamu memang busuk! tak pantas kau di sini!"
Ipung
hanya bisa meratap tangis setelah mendapatkan benturan keras di
pipinya. dia menangis sepanjang jalan menuju rumahnya. sepulangnya, dia
kehausan dan dia menemui seorang penjual bakso untuk meminta segels air
putih. lagi-lagi dia mendapatkan perlakuan yang sama dan kasar. segelas
air memang dia terima, tetapi hanya setetes dari buraian pucuk rambutnya
yang disiram oleh tukang bakso itu. makian tak mungkin tidak ia terima.
" Siapa kamu?? gara-gara kamu, semua pelanggan saya pada pergi!!,
cuihhh", tandasnya dengan melampat sebulir lidah di pelataran wajah Ipung
nan lusuh. Ipung memang harus meratapi nasibnya dan mendapatkan
perlakuan kasar setiap harinya. dunia ini seakan-akan neraka baginya.
kemana pun dia pergi, hanya makian dan cercaan yang dia terima, hanya
karena ibunya-lah dia dapat bertahan dari semuanya.
Sedikit-demi
sedikit langkah kakinya mulai mendekati bibir pelataran rumah gubug yang
di dalamnya hanya ada seorang wanita tua yang melahirkannya 17 tahun
silam. dia terperangah dan terkejut ketika mendapati tubuh ibunya
tergeletak dilantai. tak lama, ibunya meninggal di pangkuannya tanpa
pesan apapun.
hari demi hari berlalu, semua kondisi berubah total.
siswa pelajar yang biasa memaki Ipung beralih mencarinya, sampai pada
penjual bakso yang sudah lama tak melihatnya. hingga suatu hari mereka
pergi bersama ke rumah Ipung. mereka sontak terkejut, tak bisa memaki
Ipung lagi, karena dia sudah terbang ke langit beserta harapan - harapan kosong yang membuainya selama ada dilangit....

No comments:
Post a Comment