Politisi, adalah dua komponen utama yang kini
menjadi soko guru demokrasi kita. Para politisi memulai aksinya dengan membeli
suara dari pemilih, agar menjadi berkuasa, mendapatkan uang, lalu membeli
kekuasaan yang lebih besar lagi, untuk mendapatkan uang lebih banyak lagi.
Uang kini menjadi satu-satunya bahan
bakar demokrasi. Tidak ada lagi idealisme, tidak ada lagi kejujuran, musnah
sudah asas pengabdian, hilang kini rasa senasib sepenanggungan yang dulu
menjadi pilar utama perjuangan. Kepedulian sudah berubah menjadi barang
dagangan, lalu rakyat miskin dijadikan komoditi politis. Rakyat yang buta
politik dan menjadi pragmatis karena lapar, dengan licik dimanfaatkan oleh para politisi
untuk memainkan sebuah drama elegi bertopengkan demokrasi. Pendidikan politik
yang seharusnya menjadi tanggung jawab negara dan partai politik, telah lama
tinggal nama. Yang ada malah pembusukan politik.
Masihkah ada benteng terakhir
demokrasi yang diharapkan dapat menyelamatkan peri kehidupan kita berbangsa dan
bernegara? Dan bagi para politisi, orang miskin hanya dieksploitasi guna
dijadikan alat kampanye dan merengkuh jabatan. Orang miskin hanyalah alat untuk
kampanye. Orang miskin hanyalah lumbung suara yang didatangi 5 tahun sekali dan
kemudian ditinggal pergi dilupakan dan akan kembali nanti 5 tahun lagi ketika
ada kepentingan dengan demokrasi.
Demokrasi yang semestinya menjadi sebuah jawaban atas
berbagai persoalan yang mendera Demokrasi yang ada sekarang telah tercerabut
dari nilai-nilai khitah nya dan hanya digunakan guna kepentingan berbagai pihak
– pihak yang menginginkan kekuasaan, dan sekali lagi rakyat miskin dan
orang-orang kelaparan hanya menjadi alat guna meraih dukungan maksimal dari
rakyat atas nama Demokrasi.
Sekarang ketika semua telah
terlanjur menjadi bubur dimana Demokrasi tak ubah politik dagang sapi dengan
menghalalkan segala cara dan jalan menghamburkan uang guna kepentingan politik
dan orang miskin serta lapar menjadi lumbung-lumbung suara saja,
perbaikan
terhadap sistem ini harus segera diperbaiki.

Untung ada orang miskin, seandainya tidak ada seperti dalam negeri utopia bagaimana para politisi menjalankan ambisi kekuasaanya, tidak ada rakyat miskin yang menerima uang politik maka hancurlah para politisi.
ReplyDelete